- Amalia putri
- 9 Januari 2026
Mahasiswa KKN Universitas Wiraraja Cegah DBD Melalui Distribusi Abate di Desa Lebeng Barat
Mahasiswa KKN Universitas Wiraraja Cegah DBD Melalui Distribusi Abate di Desa Lebeng Barat
SUMENEP, 9 Januari 2026– Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Wiraraja (UNIJA) menunjukkan kepedulian nyata terhadap kesehatan masyarakat Desa Lebeng Barat melalui aksi preventif pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu dan berisiko meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti, para mahasiswa menginisiasi program distribusi bubuk Abate yang dilaksanakan secara terintegrasi dengan agenda kesehatan daerah.
Kegiatan ini menjadi sangat strategis karena pelaksanaannya bertepatan dengan program pengasapan (fogging) yang dilakukan oleh pihak Puskesmas setempat. Sinergi antara mahasiswa dan tenaga kesehatan ini menciptakan skema perlindungan menyeluruh bagi warga desa; jika fogging difokuskan untuk membasmi nyamuk dewasa di area luar ruangan, maka distribusi Abate oleh mahasiswa KKN menyasar langsung pada pemberantasan jentik-jentik nyamuk di dalam penampungan air rumah tangga.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menyisir rumah warga secara door-to-door untuk memastikan bantuan dan edukasi tersampaikan dengan tepat sasaran.
Selain membagikan bubuk Abate secara gratis, para mahasiswa juga memberikan edukasi kepada warga mengenai cara Penggunaan Abate dengan Takaran yang tepat untuk bak mandi dan penampungan air lainnya dengan dosis yang aman serta menekankan kembali pentingnya prinsip 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang, dan menghindari gigitan nyamuk). Langkah edukatif ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan fisik, tetapi juga memiliki kesadaran mandiri dalam menjaga sanitasi lingkungan.
Respon masyarakat Desa Lebeng Barat pun sangat positif. Kehadiran mahasiswa dinilai mampu menjembatani program Puskesmas sehingga penanganan DBD dilakukan dari dua sisi sekaligus, yakni hulu dan hilir. Perangkat desa setempat berharap kolaborasi ini dapat menekan angka risiko penyakit secara signifikan, sekaligus mempererat hubungan antara akademisi dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan desa yang lebih sehat dan tangguh terhadap penyakit menular.
Indonesia
English